Scroll untuk baca berita
DAERAHJAWA BARAT

IMI Resmi Dideklarasikan di Padalarang, Siap Kawal Gerakan Menuju Indonesia Emas 2045

92
×

IMI Resmi Dideklarasikan di Padalarang, Siap Kawal Gerakan Menuju Indonesia Emas 2045

Sebarkan artikel ini

RANG, BANDUNG BARAT Sergapnews.co – Organisasi kemasyarakatan Irsyadul Madani Indonesia (IMI) resmi dideklarasikan di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, pada 12 Agustus 2026. Kehadiran IMI membawa semangat membangun sumber daya manusia dan peradaban bangsa sebagai bagian dari upaya mewujudkan Indonesia Emas 2045.

IMI berawal dari gagasan dan karya buku Muhamad Ijudin Rahmat berjudul Irsyadul Hayat. Gagasan tersebut kemudian berkembang menjadi gerakan kemasyarakatan yang melibatkan sejumlah tokoh dari berbagai latar belakang.

Sejumlah tokoh yang turut mendeklarasikan IMI di antaranya Ir. Yadi Mulyadi, Ki Dalang Yoga Dede Amung Sutarya, Samsahril A. Arrasid, Yuni Widiawati, Rama Pratama Putra, ST, KH Ziki Abdul Halim, serta sejumlah tokoh lainnya.

Dengan mengusung motto “Merangkul Jiwa, Membangun Insan, Menghidupkan Peradaban”, IMI menyatakan komitmennya untuk mengambil peran dalam pembinaan masyarakat di berbagai bidang, mulai dari karakter, pendidikan, keluarga, ekonomi, sosial, kemanusiaan hingga literasi digital.

Soroti Persoalan Bangsa
Sekretaris Jenderal IMI, Yuni Widiawati, SIP., MIP, mengatakan dirinya bersama sejumlah tokoh sepakat bergabung dalam IMI karena organisasi tersebut dinilai memiliki perhatian terhadap berbagai persoalan kehidupan bernegara dan bermasyarakat.

“Kami sepakat untuk bergabung dengan IMI sebab tujuannya menaruh perhatian khusus pada semua aspek bernegara, bermasyarakat, hukum, sosial dan pemerintahan. Salah satu persoalan mendasar adalah lemahnya kesadaran tentang betapa pentingnya integritas,” ujar Yuni.

Menurut perempuan lulusan S2 Ilmu Pemerintahan tersebut, Indonesia saat ini menghadapi berbagai persoalan multidimensi.

Di antaranya persoalan politik, penegakan hukum, korupsi, pendidikan, pengangguran, narkoba, kenakalan remaja, lunturnya gotong royong serta tantangan literasi digital.

Ia juga menyoroti praktik politik transaksional dan mahalnya biaya politik yang dinilai dapat berdampak terhadap kualitas pengabdian setelah seseorang terpilih menduduki jabatan publik.

Dalam dokumen IMI Nomor 003/SP/DPP-IMI/VIII/2026, tertanggal Ciamis, 11 Agustus 2026, disebutkan bahwa Indonesia memiliki bonus demografi, pertumbuhan ekonomi dan sumber daya alam yang besar.

Namun, kondisi tersebut dihadapkan pada berbagai persoalan karakter dan keteladanan.

Dokumen tersebut juga menyoroti persoalan penegakan hukum.

IMI menyatakan bahwa aturan dan perundang-undangan telah mengatur berbagai aspek kehidupan, tetapi tantangan terbesar berada pada implementasinya.

IMI mendorong agar penegakan hukum berjalan secara profesional, berintegritas dan bebas dari praktik korupsi, kolusi maupun nepotisme.

Ketua Harian IMI, Ir. Yadi Mulyadi, menerangkan bahwa IMI lahir dari keprihatinan terhadap kondisi bangsa sekaligus harapan besar menyongsong Indonesia Emas 2045.

“Berangkat dari keprihatinan yang mendalam atas kondisi tersebut serta harapan besar menyongsong Indonesia Emas 2045, lahirlah Irsyadul Madani Indonesia,” kata Yadi.

Menurutnya, IMI digagas oleh M. Ijudin Rahmat, SH., SHi., MH dan Dede Adriansyah, S.IP.
Nama Irsyadul Madani memiliki makna filosofis. Irsyad dimaknai sebagai bimbingan, petunjuk dan pengarahan menuju kebaikan serta kemaslahatan.

Sementara Madani merujuk pada masyarakat yang berkeadaban, berkemajuan, tertata, beretika dan bermartabat.

Kata Indonesia menegaskan komitmen kebangsaan IMI terhadap NKRI, Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.

“IMI tidak lahir untuk menjadi ormas yang sekadar ramai secara seremonial. IMI lahir untuk menjadi gerakan pembinaan manusia atau human development movement yang fokus pada tiga hal: Merangkul Jiwa, Membangun Insan, dan Menghidupkan Peradaban,” jelasnya.

Dalam dokumen deklarasi, IMI memetakan sejumlah persoalan yang menjadi fokus perjuangan organisasi.

Pertama, krisis karakter dan akhlak, termasuk tawuran, perundungan, penyalahgunaan narkoba, seks bebas serta maraknya judi online.

Kedua, krisis pendidikan dan literasi, termasuk rendahnya minat baca, literasi digital dan ketidaksesuaian keterampilan dengan kebutuhan lapangan kerja.

Ketiga, krisis ketahanan keluarga, seperti meningkatnya perceraian, KDRT dan persoalan pola asuh.

Keempat, krisis ekonomi umat, khususnya persoalan UMKM, rendahnya literasi keuangan dan jeratan pinjaman online ilegal.

Kelima, krisis sosial dan kemanusiaan, termasuk kesenjangan sosial dan kebutuhan relawan yang terlatih serta terorganisir.

Keenam, krisis reintegrasi sosial, terutama terhadap warga binaan pemasyarakatan yang telah selesai menjalani masa pidana dan membutuhkan dukungan untuk kembali produktif di tengah masyarakat.

Ketujuh, krisis literasi digital, dengan berbagai ancaman seperti hoaks, judi online dan penyalahgunaan teknologi.

Untuk menjawab persoalan tersebut, IMI menyiapkan berbagai pilar gerakan, antara lain IMI INSAN, IMI EDU, IMI MUDA, IMI FAMILY, IMI BERDAYA, IMI PEDULI, IMI REINTEGRASI dan IMI DIGITAL.

IMI menyatakan dirinya sebagai organisasi yang inklusif dan humanis. Organisasi ini berkomitmen merangkul masyarakat tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan maupun latar belakang.

IMI juga menekankan bahwa ukuran keberhasilan organisasi bukan hanya jumlah anggota, tetapi kualitas manusia yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.

Dari sisi pengembangan organisasi, IMI menyiapkan Grand Design 2026–2045 dengan tahapan Fondasi pada 2026, Ekspansi 2027, Konsolidasi 2028–2029 dan Transformasi Peradaban 2029–2045.

Visi IMI 2045 adalah menjadi ormas nasional yang terpercaya, inklusif, profesional dan berkelanjutan dalam membimbing, membina serta memberdayakan masyarakat untuk melahirkan insan Indonesia yang beriman, berakhlak, berilmu, mandiri, produktif, berkeadaban dan berdaya saing.

Sementara itu, Saca, yang ditunjuk sebagai Ketua OKK (Organisasi, Kaderisasi dan Keanggotaan), mengajak seluruh elemen bangsa ikut mengambil bagian dalam gerakan tersebut.

Menurutnya, pembangunan bangsa harus dimulai dari pembangunan manusianya.

“Kondisi bangsa hari ini adalah cerminan dari kondisi manusianya. Jika manusianya baik, maka bangsanya akan baik. Jika manusianya berkeadaban, maka peradabannya akan maju,” ujarnya.

Ia menegaskan IMI tidak dapat berjalan sendiri. Dukungan pemerintah, TNI-Polri, akademisi, pengusaha, tokoh agama, tokoh masyarakat dan seluruh masyarakat Indonesia sangat dibutuhkan.

“Mari kita mulai dari satu jiwa kita rangkul. Dari satu keluarga kita kuatkan. Dari satu komunitas kita gerakkan. Dari Indonesia kita bangun peradaban,” katanya.

Deklarasi IMI di Padalarang tersebut menjadi langkah awal organisasi untuk membangun gerakan masyarakat sipil yang berorientasi pada pembinaan manusia dan pembangunan peradaban.

Irsyadul Madani Indonesia — Merangkul Jiwa, Membangun Insan, Menghidupkan Peradaban. Bersatu, Beriman, Beradab, Indonesia Maju. Menuju Indonesia Emas 2045.

(Red-Sergapnews.co)

Tinggalkan Balasan