SERGAPNEWS,KUDUS — Anggota Komisi IX DPR RI, Edy Wuryanto, mendorong Universitas Muria Kudus (UMK) membangun pusat pelatihan calon pekerja migran Indonesia melalui program SMK Go Global yang digagas Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI).
Langkah ini diharapkan dapat mempersiapkan lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) agar memiliki keterampilan sesuai kebutuhan pasar kerja internasional.Kamis,(15/10/2026).
Edy menyampaikan dorongan tersebut saat menjadi pembicara dalam talkshow bertajuk “Membedah Jaminan Perlindungan bagi Pekerja Migran dalam Penerapan Program SMK Go Global di Era Integrasi Pasar Kerja” di Auditorium UMK, Rabu (14/10/2026). Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum UMK menginisiasi kegiatan tersebut dengan menghadirkan Kepala Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Jawa Tengah, Dewi Ariam.
Edy menjelaskan, program SMK Go Global mempersiapkan calon pekerja migran melalui pelatihan bahasa, peningkatan kompetensi, uji kompetensi, hingga penempatan kerja di luar negeri.
Pemerintah menargetkan 40.000 calon pekerja migran mengikuti program persiapan tersebut. Untuk mencapai target itu, Edy meminta UMK memperluas peran perguruan tinggi dalam menyediakan fasilitas pelatihan bagi siswa SMK di Kudus dan daerah sekitarnya.
Ia mendorong UMK mengembangkan UMK Migrant Center sebagai pusat pelatihan dan layanan calon pekerja migran berbasis universitas. Melalui fasilitas ini, UMK diharapkan dapat membantu calon tenaga kerja memenuhi persyaratan kompetensi sebelum memasuki pasar kerja internasional.
Edy juga memaparkan target pemerintah untuk menyiapkan masing-masing 140.000 calon pekerja migran pada 2027, 2028, dan 2029. Pemerintah menargetkan total 500.000 calon pekerja migran melalui program tersebut hingga 2029, termasuk target 40.000 orang pada tahap awal.
Meski demikian, Edy menekankan bahwa penyelenggara pelatihan harus mengutamakan kebutuhan nyata perusahaan atau negara tujuan. Pemerintah perlu memastikan ketersediaan pekerjaan sebelum menyiapkan calon pekerja melalui mekanisme job order.
Kebutuhan tenaga kerja itu dapat berasal dari kerja sama antarpemerintah (government to government), kerja sama antarpihak swasta (private to private), maupun perusahaan penempatan pekerja migran Indonesia (P3MI). Penyelenggara pelatihan kemudian menyesuaikan materi dan kompetensi peserta dengan kualifikasi pekerjaan yang tersedia.
Edy menambahkan, pemerintah menanggung sejumlah biaya persiapan sesuai skema program, meliputi pelatihan, uji kompetensi, pemeriksaan kesehatan, serta pengurusan visa dan paspor.
Melalui kolaborasi KP2MI, UMK, dan lembaga pelatihan lainnya, program SMK Go Global diharapkan memperluas kesempatan kerja bagi lulusan SMK sekaligus memperkuat perlindungan pekerja migran sejak tahap persiapan hingga penempatan.
Talkshow tersebut juga mengajak mahasiswa memahami pentingnya perlindungan pekerja migran. Dengan bekal kompetensi yang sesuai dan proses penempatan yang mengikuti ketentuan, calon pekerja diharapkan dapat memanfaatkan peluang kerja di luar negeri secara lebih aman.
Baca juga
Diduga Lemah Pengawasan Imigrasi, WNA Disorot Beraktivitas di Tambang Emas Aceh Jaya
Aktivis HAM Aceh Nyak Li Maop Desak PBB Turun Tangan, Kecam Dugaan Kekerasan Aparat Saat Maulid Nabi



















