Scroll untuk baca berita
OPINI

Strategi Sukses Dalam Urban Farming : Menanam Pangan, Menanam Harapan

29
×

Strategi Sukses Dalam Urban Farming : Menanam Pangan, Menanam Harapan

Sebarkan artikel ini

SERGAPNEES.CO – Kota identik dengan gedung, jalan, kendaraan, dan kepadatan penduduk. Namun, di tengah keterbatasan ruang tersebut, ada satu aktivitas yang semakin menarik perhatian: urban farming atau pertanian perkotaan. Urban farming bukan sekadar kegiatan menanam sayuran di halaman rumah.

Lebih jauh, ia merupakan strategi untuk mendekatkan produksi pangan kepada konsumen, memanfaatkan ruang terbatas, memperindah lingkungan, sekaligus membangun kesadaran masyarakat terhadap pangan sehat dan berkelanjutan.

Pertanyaannya, bagaimana agar urban farming tidak berhenti sebagai tren sesaat, tetapi benar-benar sukses dan memberikan manfaat? Caranya yaitu dengan menerapkan 6 T atau 6 Tepat Urban Farming: Tepat Lahan 🡪 Tepat Teknologi 🡪 Tepat Tanaman 🡪 Tepat Nutrisi 🡪 Tekun Mengelola 🡪 Terhubung dengan Pasar.
Pertama, mulailah dari potensi yang tersedia.

Tidak semua orang memiliki lahan luas. Balkon, halaman sempit, atap rumah, dinding, bahkan area kosong di lingkungan permukiman dapat dimanfaatkan. Prinsipnya sederhana: jangan menunggu memiliki lahan luas untuk mulai bertani. Mulailah dari ruang yang ada, meskipun hanya beberapa meter persegi.

Kedua, pilih teknologi sesuai kondisi. Urban farming dapat dilakukan dengan berbagai metode, seperti hidroponik, vertikultur, pot, polybag, maupun budidaya menggunakan media organik. Teknologi tidak harus mahal. Untuk pemula, sistem sederhana justru lebih baik karena mudah dipelajari, dirawat, dan dikembangkan. Teknologi yang tepat adalah teknologi yang sesuai dengan kemampuan, ruang, air, modal, dan waktu yang tersedia.
Ketiga, pilih komoditas yang cepat panen dan memiliki pasar.

Kangkung, sawi, bayam, selada, pakcoy, cabai, tomat, dan berbagai tanaman herbal merupakan pilihan yang relatif menarik untuk dikembangkan. Namun, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh tanaman yang mudah tumbuh. Pertimbangkan pula kebutuhan keluarga dan permintaan pasar. Prinsipnya: tanam apa yang dibutuhkan dan manfaatkan apa yang ditanam.

Keempat, jangan mengabaikan kualitas media dan nutrisi. Tanaman dalam ruang terbatas sangat bergantung pada pengelolaan media, air, dan unsur hara. Media harus memiliki aerasi dan drainase yang baik. Penggunaan kompos, pupuk organik, atau nutrisi yang sesuai dapat membantu menghasilkan tanaman yang sehat. Pengelolaan air juga harus efisien agar tidak boros.

Kelima, kunci keberhasilan adalah konsistensi. Urban farming membutuhkan pengamatan rutin. Tanaman perlu diperiksa dari gangguan hama, penyakit, kekurangan air, maupun ketidakseimbangan nutrisi. Jadwal penyiraman, pemupukan, pemangkasan, dan panen sebaiknya dicatat. Dengan manajemen sederhana tetapi disiplin, kegagalan dapat diminimalkan.

Keenam, bangun komunitas dan pasar. Urban farming akan jauh lebih kuat jika dilakukan bersama. Kelompok warga, sekolah, kampus, komunitas, pemerintah, dan pelaku usaha dapat membangun ekosistem pertanian perkotaan. Hasil panen tidak hanya dikonsumsi sendiri, tetapi juga dapat dipasarkan kepada tetangga, restoran, pasar lokal, atau melalui media sosial. Pada akhirnya, urban farming bukan sekadar persoalan menanam tanaman di tengah kota. Ia adalah gerakan membangun ketahanan pangan dari lingkungan terdekat.

Keberhasilannya tidak ditentukan oleh luas lahan atau mahalnya teknologi, tetapi oleh ketepatan memilih komoditas, kesesuaian teknologi, keterampilan pengelolaan, konsistensi, dan kemampuan membangun pasar.

Karena itu, mari mengubah cara pandang kita: lahan sempit bukan alasan untuk tidak bertani. Satu pot sayuran mungkin terlihat kecil, tetapi jika dilakukan oleh ribuan keluarga, sekolah, komunitas, dan institusi, dampaknya menjadi besar.

Jadi, urban farming bukan sekadar bisa menanam, tetapi harus mampu menanam dengan benar, mengelola dengan disiplin, dan menghasilkan manfaat. Urban farming adalah investasi kecil untuk kota yang lebih hijau, pangan yang lebih dekat, masyarakat yang lebih sehat, dan masa depan yang lebih berkelanjutan. (08092026).

Oleh : Netty Syahruddin, Dosen Fakultas Pertanian dan Bioremediasi Lahan Tambang Universitas Muslim Indonesia UMI Makasar

Tinggalkan Balasan